A : apa bagian tubuh yang paling penting?
B : mata
A : bukan
B : lalu apa?
A : bahu
B : kenapa? Apakah karena fungsinya untuk menahan kepala?
A : bukan, tetapi karena bahu dapat menahan kepala seorang teman atau orang yang kamu sayangi ketika menangis. Aku cuma berharap kamu punya cukup kasih sayang dan teman-teman agar kamu selalu mempunyai bahu untuk menangis bila-bila pun kamu memerlukannya..
Jadi, bahagian tubuh yang paling penting adalah tidak menjadi orang yang mementingkan diri sendiri.
Tetapi simpati terhadap penderitaan yang dialami orang lain.
Orang akan melupakan apa yang kamu katakan, orang akan melupakan apa yang kamu lakukan..
Tetapi orang tidak akan pernah lupa bagaimana kamu membuat mereka berarti .... ^^
Wednesday, December 28, 2011
Friday, December 2, 2011
saling tanya
“Heeiii kamuu!! Yaa kamu yang di sana!?” {teriak hati}
“Ada apa?” (batin menjawab)
“kenapa kelihatannya kamu gelisah? Ada yang bisa aku bantu?”
(sambil tersenyum batin menjawab)“oohh…tidak, aku tidak kenapa-kenapa kok”
“apa kau yakin?”
“tidak”
“hah? Apa maksudmu?”
“yaa aku tidak yakin aku tidak kenapa-kenapa, tapi aku yakin aku pasti baik-baik saja”
“aku semakin tidak mengerti maksud kata-katamu itu?”
“memang tak dapat dimengerti..”
“aku bingung!”
“hhaha, ini terlihat lucu ya dari cara kita membicarakannya…”
“jelaskan padaku!!”
“apa yang seharusnya aku jelaskan? Bukankah kau yang bertugas merasakan, sehingga aku bisa tenang??”
“oohh… yaa..aku paham maksudmu sekarang..
tapi, bukankah aku sama sepertimu.. sebenarnya aku sendiri juga tidak tahu apa yang aku rasakan…” {aku hati}
“dan sekarang aku bertanya kepadamu, bagaimana aku bisa tenang sedangkan kau sendiri pun tak tahu apa yang sedang kau rasakan? Tugasku itu berfikir, tugasmu merasa.. seharusnya kita bisa singkron sehingga bisa benar-benar terlihat baik”
“.. ini dimulai dari mata yang melihat ketulusan dari mata orang itu, wajar kau pada akhirnya berfikir memang benar dia, dan pada akhirnya akupun merasakan desiran angin hangat yang sangat nyaman ketika mata melihat mata…”
“apa kau merasakan apa yang sedang aku fikirkan?”
“ya aku merasakannya.. kita tak boleh terus menerus gelisah.. cinta tak boleh membuat orang ini jatuh”
“tapi aku sudah sangat lelah sekarang…. Kita benar-benar membuat mata terus mengalirkan airnya…aku hanya bisa memikirkan apa yang terbaik untuk orang ini agar ia tak lagi jatuh dan menggunakan mindset untuk mengubah pola fikirnya”
“aku juga sudah lelah …sangat lelah.. mungkin melebihi rasa lelahmu..”
“aku paham, kau pasti merasa sangat tersakiti dengan semua ini…
oooh aku tidak percaya, pada akhirnya keyakinanmu, dan kepercayaanku akhirnya malah menghianati orang ini..”
“ketika kedamaian merasukiku, itu benar-benar saat yang menyenangkan… jika saja aku bisa menahan kenyamanan itu terus padaku, mungkin mata tak lagi mengalirkan airnya…
kita terlalu meyakini dan mempercayai… Tuhan sedang memberikan kita pelajaran agar kita kuat dan tak lagi seperti ini… tapi aku benar-benar bingung dan sangat lelah.. harus bagaimana ini?? Tak dapatkah kau membantuku menghilangkan desiran itu?”
“bisa.. tapi entah kapan itu.. aku tak tahu.. mungkin saat mata melihat ketulusan mata lagi, itulah saat dimana desiran itu berubah haluan…semoga itu benar-benar ketulusan yang penuh kejujuran dan kearifan hati”
Subscribe to:
Posts (Atom)